Silakan Kunjungi Website SMP YMIK Jakarta di www.smpymik.com
Latest Post
Hari Guru Spesial, Peringatan hari Jadi PGRI Ke-70, Guru Hebat SMP YMIK, OSIS Semangat Luar Biasa
Suasana
pagi ini istimewa tepat di hari lahir persatuan guru di Indonesia,
suasana itu memang sudah terasa sejak di perjalanan. Sejak di jalan
nuansa guru sudah terlihat, banyak motor (kendaraan mayoritas para
guru) ditumpangi orang berseragam baju bercorak hitam putih bergambar
obor, yang merupakan seragam PGRI. Ya ... hari ini, Rabu 25 Nopember
2015 secara serentak di seluruh Indonesia diperingati hari guru yang ke
70 yang bertepatan dengan hari terbentuknya PGRI, hari besarnya guru
di Indonesia.
Yah, hari ini memang sangat terasa spesial yang terjadi di SMP YMIK, semua guru berseragam baju PGRI, lebih spesial lagi adalah upacara bendera dalam rangka memperingati hari guru kali ini, semua petugas upacara dilaksanakan sepenuhnya oleh guru. Bertindak sebagai pembina upacara Bpk Haris,S.Ip,M.Pd (kepala sekolah), pemimpin upacara Bpk Sutriyadi, pengibar bendera Ibu Miftahul Jannah,S.Pd, dst., pembaca UUD Bpk.Nur Hasan,S.Ag, pancasila Rojalih.S.Pd, pembaca doa Bpk Imam Supriatna, protokol Ibu Efi Damayanti.
Menjelang upacara selesai ada acara istimewa yang disutradarai oleh OSIS, sangat trenyuh dan menyentuh. Semua guru diatur baris berjajar urut sesuai kode, lalu dilantunkan lagu terima kasih guru, sejenak kemudian secara serentak dan teratur satu persatu dari OSIS maju menemui guru untuk sungkem sambil menyerahkan sepucuk bunga mawar pertanda penghormatan dan rasa terima kasih. Banyak guru dan siswa yang trenyuh hingga meneteskan air mata, sangat khidmat, khusuk dan menyentuh. Luar biasa anak-anak kita, mereka bisa menjadi apa saja bila guru mengarahkan dengan segenap hati, ketulusan dan keteladanan.
Guru adalah benar-benar tugas mulia, tugas terhormat - kalau kita menyadarinya. Kira-kira demikian yang disampaikan pemimpin dunia pendidikan saat ini, mendikdasmen RI. Mengutif sambutan Mendikdasmen Anis Baswedan di media internet stahun yang lalu, berikut petikannya :
Mengutip kata-kata bagus Laurence Peter (1986) tentang guru, mungkin bisa menjadi bahan pemikiran dan instropkesi kita : 1) Guru Biasa, "Mengatakan", 2) Guru yang Baik, "Menerangkan", 3) Guru yang Superior, "Mendemonstrasikan", 4) Guru yang Hebat, "Memberi Inspirasi". Tetaplah tegak berdiri mendidik, membimbing dan mendoakan siswa-siswi kita. Yakinlah, inilah lahan amal sholehmu. Dirgahayu PGRI, jadilah lentera ilmu, jadilah sumber inspirasi. (35336)








Yah, hari ini memang sangat terasa spesial yang terjadi di SMP YMIK, semua guru berseragam baju PGRI, lebih spesial lagi adalah upacara bendera dalam rangka memperingati hari guru kali ini, semua petugas upacara dilaksanakan sepenuhnya oleh guru. Bertindak sebagai pembina upacara Bpk Haris,S.Ip,M.Pd (kepala sekolah), pemimpin upacara Bpk Sutriyadi, pengibar bendera Ibu Miftahul Jannah,S.Pd, dst., pembaca UUD Bpk.Nur Hasan,S.Ag, pancasila Rojalih.S.Pd, pembaca doa Bpk Imam Supriatna, protokol Ibu Efi Damayanti.
Menjelang upacara selesai ada acara istimewa yang disutradarai oleh OSIS, sangat trenyuh dan menyentuh. Semua guru diatur baris berjajar urut sesuai kode, lalu dilantunkan lagu terima kasih guru, sejenak kemudian secara serentak dan teratur satu persatu dari OSIS maju menemui guru untuk sungkem sambil menyerahkan sepucuk bunga mawar pertanda penghormatan dan rasa terima kasih. Banyak guru dan siswa yang trenyuh hingga meneteskan air mata, sangat khidmat, khusuk dan menyentuh. Luar biasa anak-anak kita, mereka bisa menjadi apa saja bila guru mengarahkan dengan segenap hati, ketulusan dan keteladanan.
Guru adalah benar-benar tugas mulia, tugas terhormat - kalau kita menyadarinya. Kira-kira demikian yang disampaikan pemimpin dunia pendidikan saat ini, mendikdasmen RI. Mengutif sambutan Mendikdasmen Anis Baswedan di media internet stahun yang lalu, berikut petikannya :
Menjadi guru bukanlah pengorbanan. Menjadi guru adalah sebuah kehormatan. Ibu dan Bapak Guru telah memilih jalan terhormat, memilih hadir bersama anak-anak kita, bersama para pemilik masa depan Indonesia. Ibu dan Bapak Guru telah mewakili kita semua menyiapkan masa depan Indonesia.Akhirnya, marilah kita maknai hari guru ini sebagai momen untuk bangkit, untuk bangun dan berubah menjadi sosok guru yang benar-benar sesuai harapan siswa. Kita pasti bisa, kalau kita mau. Yang dibutuhkan adalah berpikir positif, berkata positif, bersikap positif dan bertindak positif. Jangan apriori, jangan berprasangka dan berkesimpulan negatif. Lakukan saja yang terbaik yang bisa dilakukan. Banyak harapan siswa yang digantungkan pada kita, guru. Dorong, bimbing, rangkul dan ajak siswa untuk maju dan senanntiasa memberi motivasi - semangat untuk meraih masa depan mereka, masa depan keluarga mereka, masa depan masyarakat mereka, masa depan negara mereka .... Indonesia. Selamat bekerja, selamat berkarya, semoga sukses selalu.
Potret Indonesia hari ini adalah potret hasil dunia pendidikan di masa lalu. Potret dunia pendidikan hari ini adalah potret Indonesia masa depan. Jadikan rumah kita dan sekolah kita menjadi zona berkarakter mulia. Izinkan anak-anak kita merasakan rumah yang membawa nilai kejujuran. Izinkan anak-anak kita merasakan sekolah yang guru-gurunya adalah teladan. Biarkan anak-anak kita mengingat Kepala Sekolahnya dan seluruh Tenaga Kependidikan di sekolahnya sebagai figur-figur bersih dan terpuji karakternya.
Karakter memang tidak cukup diajarkan melalui lisan dan tulisan. Karakter diajarkan melalui teladan. Oleh karena itu, Ibu dan Bapak Guru yang saya muliakan, jadilah figur-figur yang diteladani oleh murid-murid dan lingkungannya.
Mengutip kata-kata bagus Laurence Peter (1986) tentang guru, mungkin bisa menjadi bahan pemikiran dan instropkesi kita : 1) Guru Biasa, "Mengatakan", 2) Guru yang Baik, "Menerangkan", 3) Guru yang Superior, "Mendemonstrasikan", 4) Guru yang Hebat, "Memberi Inspirasi". Tetaplah tegak berdiri mendidik, membimbing dan mendoakan siswa-siswi kita. Yakinlah, inilah lahan amal sholehmu. Dirgahayu PGRI, jadilah lentera ilmu, jadilah sumber inspirasi. (35336)








Guru * Oleh Sity Masripah, S.Pd.I
GURU
(oleh Sity Masripah, S.Pd.I)
Guru, melalui kata kau ajarkan aku
Guru, melalui sikap kau bimbing aku

(oleh Sity Masripah, S.Pd.I)
Guru, melalui kata kau ajarkan aku
Guru, melalui sikap kau bimbing aku
Ku tahu, kau sedikit lelah ajarkan aku
Ku tahu, kau sedikit bosan bimbing aku
Namun, kau hapus semua rasa itu dengan segala kasih sayangmu
Guru, maafkan aku yang kadang abaikan ajaranmu
Guru, maafkan aku yang kadang acuhkan bimbinganmu
Ku tahu, ajaranmu mengubah pengetahuanku
Ku tahu, bimbinganmu mengubah sikapku
Karenanya, do'aku "berkah Allah ada dalam segala jasamu."
Ku tahu, kau sedikit bosan bimbing aku
Namun, kau hapus semua rasa itu dengan segala kasih sayangmu
Guru, maafkan aku yang kadang abaikan ajaranmu
Guru, maafkan aku yang kadang acuhkan bimbinganmu
Ku tahu, ajaranmu mengubah pengetahuanku
Ku tahu, bimbinganmu mengubah sikapku
Karenanya, do'aku "berkah Allah ada dalam segala jasamu."
Cerpen "HARI PERTAMA" * Oleh Sity Masripah, S.Pd.I
HARI PERTAMA
(oleh Sity Masripah, S.Pd.I)
Sedikit berat langkah kakiku memasuki ruang kelas yang begitu asing bagiku, terlihat berbeda memang dengan kelasku kemarin, bukan hanya kelas yang masih asing, orang-orang yang kutemuipun masih asing terlihat. Karena ini adalah hari pertamaku di sekolah.
Setelan baju seragam yang ku pakai sudah berubah, rasanya belum lama ini setelan seragam yang ku pakai adalah kemeja putih dengan bawahan rok merah ditambah atribut dasi merah dan topi merah. Sedikit ada rasa bangga hari ini, masih dengan kemeja putih rapih namun kini di balut dengan bawahan rok berwarna biru atribut dasi biru kusematkan dengan rapi di sela-sela kerah bajuku, rambut panjang lurus kuikat dengan rapi kini ditutupi topi biru. Bangga rasanya kini aku bukan anak SD lagi tapi sudah masuk jenjang SMP.
Ya SMP, Sekolah Menengah Pertama, kini ku memasuki jenjang pendidikan baru. Berterima kasihku kepada orang tuaku yang dengan susah payah membanting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolahku demi kehidupan layakku di kemudian hari.
Hari pertamaku di sekolah, di mulai dengan upacara bendera sekaligus pembukaan untuk massa orientasi siswa baru. Canggung rasanya berdiri berbaris rapi di lapangan upacara dengan teman-teman yang belum ku kenal sebelumnya, walaupun begitu kami ikuti upacara tersebutdengan khidmat.
Pembina upacara hari itu adalah kepala sekolah, dengan wibawa beliau menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat datang kepada seluruh murid baru di sela-sela amanat upacaranya, sedikit memberi gambaran bahwa tingkat belajar di SMP berbeda ketika bersekolah di SD. Beliau juga berpesan untuk selalu lebih giat dalam belajar.
Mungkin beliaulah guru pertama yang aku kenal di sekolah ini, namun juga tak kalah wibawanya guru-guru yang mengajar di sekolah ini, terlihat dari setelan seragam safari/blazzer yang mereka kenakan begitu rapi terlihat.
Bersyukurku kepada Allah memberikanku kesempatan untuk bisa bersekolah, berterima kasihku kepada orang tuaku atas kerja kerasnya. Terima kasih pula ku ucapkan kepada seluruh guru-guruku yang dengan sabar mengajarkanku berbagai macam ilmu pengetahuan, ku tahu pula guru-guruku bukan hanya sekedar mengajar tapi juga membimbing siswanya mengenai hal-hal kebaikan dan keburukan, hingga kami bisa membedakan mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus di tinggalkan.
Di hari pertama kami sekolah, sudah terlihat bimbinganmu guru-guru. Kami di ajarkan bagaimana tata tertib yang harus di patuhi dan di jalankan. Gelar Pahlawan tanpa tanda jasa memang patut engkau sandang guru-guruku, karena berkatmulah kami bisa mengerti segala hal tanpa menuntut apapun dari kami, kalian hanya berharap agar kami selalu mendapat nilai yang terbaik hingga kelulusan kami dan melihat kami akhirnya menjadi orang sukses yang bisa membanggakan kalian, yang dengan sabar dan bersusah payah mengajar dan membimbing kami. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada seluruh guru-guru, terutama di hari spesial ini ku ucapkan "Selamat Hari Guru".
(oleh Sity Masripah, S.Pd.I)
Sedikit berat langkah kakiku memasuki ruang kelas yang begitu asing bagiku, terlihat berbeda memang dengan kelasku kemarin, bukan hanya kelas yang masih asing, orang-orang yang kutemuipun masih asing terlihat. Karena ini adalah hari pertamaku di sekolah.
Setelan baju seragam yang ku pakai sudah berubah, rasanya belum lama ini setelan seragam yang ku pakai adalah kemeja putih dengan bawahan rok merah ditambah atribut dasi merah dan topi merah. Sedikit ada rasa bangga hari ini, masih dengan kemeja putih rapih namun kini di balut dengan bawahan rok berwarna biru atribut dasi biru kusematkan dengan rapi di sela-sela kerah bajuku, rambut panjang lurus kuikat dengan rapi kini ditutupi topi biru. Bangga rasanya kini aku bukan anak SD lagi tapi sudah masuk jenjang SMP.
Ya SMP, Sekolah Menengah Pertama, kini ku memasuki jenjang pendidikan baru. Berterima kasihku kepada orang tuaku yang dengan susah payah membanting tulang mencari nafkah untuk membiayai sekolahku demi kehidupan layakku di kemudian hari.
Hari pertamaku di sekolah, di mulai dengan upacara bendera sekaligus pembukaan untuk massa orientasi siswa baru. Canggung rasanya berdiri berbaris rapi di lapangan upacara dengan teman-teman yang belum ku kenal sebelumnya, walaupun begitu kami ikuti upacara tersebutdengan khidmat.
Pembina upacara hari itu adalah kepala sekolah, dengan wibawa beliau menyampaikan ucapan terima kasih dan selamat datang kepada seluruh murid baru di sela-sela amanat upacaranya, sedikit memberi gambaran bahwa tingkat belajar di SMP berbeda ketika bersekolah di SD. Beliau juga berpesan untuk selalu lebih giat dalam belajar.
Mungkin beliaulah guru pertama yang aku kenal di sekolah ini, namun juga tak kalah wibawanya guru-guru yang mengajar di sekolah ini, terlihat dari setelan seragam safari/blazzer yang mereka kenakan begitu rapi terlihat.
Bersyukurku kepada Allah memberikanku kesempatan untuk bisa bersekolah, berterima kasihku kepada orang tuaku atas kerja kerasnya. Terima kasih pula ku ucapkan kepada seluruh guru-guruku yang dengan sabar mengajarkanku berbagai macam ilmu pengetahuan, ku tahu pula guru-guruku bukan hanya sekedar mengajar tapi juga membimbing siswanya mengenai hal-hal kebaikan dan keburukan, hingga kami bisa membedakan mana yang harus di kerjakan dan mana yang harus di tinggalkan.
Di hari pertama kami sekolah, sudah terlihat bimbinganmu guru-guru. Kami di ajarkan bagaimana tata tertib yang harus di patuhi dan di jalankan. Gelar Pahlawan tanpa tanda jasa memang patut engkau sandang guru-guruku, karena berkatmulah kami bisa mengerti segala hal tanpa menuntut apapun dari kami, kalian hanya berharap agar kami selalu mendapat nilai yang terbaik hingga kelulusan kami dan melihat kami akhirnya menjadi orang sukses yang bisa membanggakan kalian, yang dengan sabar dan bersusah payah mengajar dan membimbing kami. Sekali lagi kami ucapkan terima kasih kepada seluruh guru-guru, terutama di hari spesial ini ku ucapkan "Selamat Hari Guru".
GURU; MENEGAKKAN BENANG BASAH DAN KUSUT
GURU; MENEGAKKAN BENANG BASAH DAN KUSUT
Tulisan ini terkhusus untuk pengabdian guru, terutama dalam momentum hari guru 25 November 2015. Sepintas jika difahami judul tulisanini memang se-akan mustahil benang basah untuk ditegakkan, tetapi itulah tugas seorang guru bagaimana yang mustahil itu menjadi kenyata’an. Kalau pun benang basah itu bisa ditegakkan, maka butuh kerja keras, butuh teknik, butuh kesabaran, dan segala upaya lainnya. Tulisan ini bermaksud mengurai bagaimana jasa besar seorang guru, kerja kerasnya, dan keikhlasannya dalam mendidik anak bangsa yang umpamakan sebagai penegak benang basah.
Semua orang pasti tau, bagaimana sifat sehelai benang, lemas-lunglai dan tak berdaya. Ia tidak akan bisa bermanfaat, atau tidak akan bisa berdiri sendiri, kalau tidak ada yang membantunya dalam bingkai jahitan baju yang kelak tersusun rapi, elok dan berguna untuk diri dan orang lain. Apalagi jika benang itu basah, maka semakin berat untuk membuat ia dapat digunakan, butuh daya upaya yang keras untuk ia bisa dipintal dalam sebuah jahitan atau tenunan yang Indah. Benang sudah basah ditambah kusut, wah itu pasti repot untuk dimanfaatkan, bahkan kebanyakan memilih untuk dibuang saja, karena hampir tidak ada gunanya, dan butuh waktu lama untuk bisa teruarai dan dapat digunakan dalam jahitan dan tenunan. Benang basah dan kusut itulah murid, peserta didik, siswa/i yang setiap pagi dijumpai guru, setiap hari ditemani untuk mendapatkan pengetahuan sebagai modal hidup.
SOSOK PENEGAK BENANG BASAH
Tut wuri handayani”, atau aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ki Hajar Dewantara
Kutipan petuah Ki Hajar terkait konsepsi dan praksis pendidikan di masyarakat di atas selalu menempel lekat dalam hati dan pikiran para pelaku pendidikan di Indonesia, terutama bagi para guru. Dengan bahasa sansekerta beliau seakan menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa tertentu yang kaya akan makna. Kalau petuah tersebut disingkronkan dengan konsep pendidikan di abad modern dan post modern memang masih sangat relevan. Perubahan kurikulum dengan seperangkat paradigma yang menitikberatkan peran guru, posisi murid, karakter, nilai etika, dan lainnya sebagainya seakan selalu terangkam dalam isi dari petuah tersebut. Artinya petuah tersebut tentu selalu menjadi spirit setiap perubahan konsepsi pendidikan di Indonesia.
Guru: Tut Wuri Handayani
Petuah tersebut memberikan makna bahwa seorang guru adalah motifator bagi muridnya, medorong dan memberikan arahan untuk sukses dalam pengalaman belajar. Hal ini dalam konsep pendidikan kekinian mengisyaratkan posisi guru sebagai fasilitator muridnya, yang bertugas menggiring siswa untuk menemukan pengetahuan secara mandiri (student center), sehingga pengetahuan yang diterima oleh siswa dapat menumbuhkan kesadaran jiwa untuk bertindak secara bijak dan menimbulkan sikap baik untuk kebaikan.
Guru: Ing Madya Mangun Karsa
Petuah ini merupakan nilai esensial seorang guru, bagaimana kompetensi pengetahuan seorang guru terukur. Karena ungkapan ini menekankan bagaimana keberadaan seorang guru di tengah, bagi dan atau di antara muridnya, dapat menciptakan prakarsa dan ide yang inovatif. Pada akhirnya kemampuan itu dapat tertransformasi kepada siswa dengan baik, dan dapat mewarnai ethic siswa dalam kehidupan sehari. Dalam kontek ini Guru selain sebagai figur yang melakukan tranformasi ilmu, dia juga harus mampu melakukan inovasi untuk pengembangan pengetahuan.
Guru: Ing Ngarsa Sung Tulada
Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, artinya guru adalah teladan bagi muridnya. Teladan dalam ucapan, perbuatan, dan laku sosial. Itulah makna petuah KI Hajar “Ing Ngarso Sung Tulada”, artinya guru harus bisa menjadi tauladan bagi siswa, tidak hanya ketika berada di sekolah, tapi juga konsisten dengan laku positif di luar sekolah. Teladan adalah pancaran dari proses ethic positif yang tidak bisa direkayasa. Karena teladan adalah nilai esensial dari keikhlasan dalam berniat, berkata, dan berprilaku. Guru profesional adalah figure idola bagi siswa dimana pun, kapan pun, dan untuk siapapun.
BENANG BASAH AKAN TEGAK
Betapa pentingnya posisi seorang guru dalam aktifitas pendidikan, terutama dalam membentuk karakter mulia muridnya. Mungkin kadang jasa sang guru dilupakan ketika langkah sang murid sudah “tegak”. Tapi sang guru akan tetap mengnang dengan ketulusan dan keikhlasan. Bahkan merasa bahagian jika benang itu tegak menjulang ke langit mengalahkan sang empuhnya.
Sejak lama Empu Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mengisyaratkan posisi guru, jasa guru, melalui petuah-petuah dengan bahasa sansekerta. Guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga Guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitanya. Di sini lah nilai esensial Guru sebagai pokoguru pendidikan di Indonesia. Berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat adalah nilai yang harus ada tertanam dalam sanubari seorang Sokoguru, begitulah KI Hajar Dewantara membangnun konsepsi pendidikan di bumi Nusantara.
Tulisan ini terkhusus untuk pengabdian guru, terutama dalam momentum hari guru 25 November 2015. Sepintas jika difahami judul tulisanini memang se-akan mustahil benang basah untuk ditegakkan, tetapi itulah tugas seorang guru bagaimana yang mustahil itu menjadi kenyata’an. Kalau pun benang basah itu bisa ditegakkan, maka butuh kerja keras, butuh teknik, butuh kesabaran, dan segala upaya lainnya. Tulisan ini bermaksud mengurai bagaimana jasa besar seorang guru, kerja kerasnya, dan keikhlasannya dalam mendidik anak bangsa yang umpamakan sebagai penegak benang basah.
Semua orang pasti tau, bagaimana sifat sehelai benang, lemas-lunglai dan tak berdaya. Ia tidak akan bisa bermanfaat, atau tidak akan bisa berdiri sendiri, kalau tidak ada yang membantunya dalam bingkai jahitan baju yang kelak tersusun rapi, elok dan berguna untuk diri dan orang lain. Apalagi jika benang itu basah, maka semakin berat untuk membuat ia dapat digunakan, butuh daya upaya yang keras untuk ia bisa dipintal dalam sebuah jahitan atau tenunan yang Indah. Benang sudah basah ditambah kusut, wah itu pasti repot untuk dimanfaatkan, bahkan kebanyakan memilih untuk dibuang saja, karena hampir tidak ada gunanya, dan butuh waktu lama untuk bisa teruarai dan dapat digunakan dalam jahitan dan tenunan. Benang basah dan kusut itulah murid, peserta didik, siswa/i yang setiap pagi dijumpai guru, setiap hari ditemani untuk mendapatkan pengetahuan sebagai modal hidup.
SOSOK PENEGAK BENANG BASAH
Tut wuri handayani”, atau aslinya: ing ngarsa sung tulada, ing madya mangun karsa, tut wuri handayani. Ki Hajar Dewantara
Kutipan petuah Ki Hajar terkait konsepsi dan praksis pendidikan di masyarakat di atas selalu menempel lekat dalam hati dan pikiran para pelaku pendidikan di Indonesia, terutama bagi para guru. Dengan bahasa sansekerta beliau seakan menegaskan bahwa bangsa Indonesia memiliki bahasa tertentu yang kaya akan makna. Kalau petuah tersebut disingkronkan dengan konsep pendidikan di abad modern dan post modern memang masih sangat relevan. Perubahan kurikulum dengan seperangkat paradigma yang menitikberatkan peran guru, posisi murid, karakter, nilai etika, dan lainnya sebagainya seakan selalu terangkam dalam isi dari petuah tersebut. Artinya petuah tersebut tentu selalu menjadi spirit setiap perubahan konsepsi pendidikan di Indonesia.
Guru: Tut Wuri Handayani
Petuah tersebut memberikan makna bahwa seorang guru adalah motifator bagi muridnya, medorong dan memberikan arahan untuk sukses dalam pengalaman belajar. Hal ini dalam konsep pendidikan kekinian mengisyaratkan posisi guru sebagai fasilitator muridnya, yang bertugas menggiring siswa untuk menemukan pengetahuan secara mandiri (student center), sehingga pengetahuan yang diterima oleh siswa dapat menumbuhkan kesadaran jiwa untuk bertindak secara bijak dan menimbulkan sikap baik untuk kebaikan.
Guru: Ing Madya Mangun Karsa
Petuah ini merupakan nilai esensial seorang guru, bagaimana kompetensi pengetahuan seorang guru terukur. Karena ungkapan ini menekankan bagaimana keberadaan seorang guru di tengah, bagi dan atau di antara muridnya, dapat menciptakan prakarsa dan ide yang inovatif. Pada akhirnya kemampuan itu dapat tertransformasi kepada siswa dengan baik, dan dapat mewarnai ethic siswa dalam kehidupan sehari. Dalam kontek ini Guru selain sebagai figur yang melakukan tranformasi ilmu, dia juga harus mampu melakukan inovasi untuk pengembangan pengetahuan.
Guru: Ing Ngarsa Sung Tulada
Pepatah mengatakan “guru kencing berdiri, murid kencing berlari”, artinya guru adalah teladan bagi muridnya. Teladan dalam ucapan, perbuatan, dan laku sosial. Itulah makna petuah KI Hajar “Ing Ngarso Sung Tulada”, artinya guru harus bisa menjadi tauladan bagi siswa, tidak hanya ketika berada di sekolah, tapi juga konsisten dengan laku positif di luar sekolah. Teladan adalah pancaran dari proses ethic positif yang tidak bisa direkayasa. Karena teladan adalah nilai esensial dari keikhlasan dalam berniat, berkata, dan berprilaku. Guru profesional adalah figure idola bagi siswa dimana pun, kapan pun, dan untuk siapapun.
BENANG BASAH AKAN TEGAK
Betapa pentingnya posisi seorang guru dalam aktifitas pendidikan, terutama dalam membentuk karakter mulia muridnya. Mungkin kadang jasa sang guru dilupakan ketika langkah sang murid sudah “tegak”. Tapi sang guru akan tetap mengnang dengan ketulusan dan keikhlasan. Bahkan merasa bahagian jika benang itu tegak menjulang ke langit mengalahkan sang empuhnya.
Sejak lama Empu Pendidikan Indonesia, Ki Hajar Dewantara mengisyaratkan posisi guru, jasa guru, melalui petuah-petuah dengan bahasa sansekerta. Guru bukan sekedar mengajarkan keilmuan tertentu, tapi dia juga harus dapat menjadi instrument perekat nilai-nilai kebangsaan, nasionalisme, cinta tanah air, nilai religiusitas dan spritualitas. Selain itu juga Guru harus menjadi tauladan bagi siswa, menjadi orang tua yang selalu membimbing anaknya, menjadi problem solver dalam setiap sumbatan pengetahuan dan wacana bagi orang-orang di sekitanya. Di sini lah nilai esensial Guru sebagai pokoguru pendidikan di Indonesia. Berfikir, berdzikir, beramal sholeh, serta mengabdi kepada masyarakat adalah nilai yang harus ada tertanam dalam sanubari seorang Sokoguru, begitulah KI Hajar Dewantara membangnun konsepsi pendidikan di bumi Nusantara.
Mari Mengeluarkan sebagian rezekinya di Jalan Allah...
“Siapakah
yang mau memberi pinjaman kepada Allah, pinjaman yang baik
(menafkahkan hartanya di jalan Allah), maka Allah akan melipat gandakan
pembayaran kepadanya dengan lipatganda yang banyak”. (Al-Baqarah: 245)
Panitia pembangunan Masjid Baitul Ilmi' membuka peluang bagi Anda, Saudara/I untuk mengeluarkan sebahagian dari rezekinya di jalan Allah, melalui Masjid Baitul Ilmi semoga Allah senantiasa memberikan limpahan rahmat dan pahala yang tiada putus.
Rekening Donasi:
Panitia pembangunan Masjid Baitul Ilmi' membuka peluang bagi Anda, Saudara/I untuk mengeluarkan sebahagian dari rezekinya di jalan Allah, melalui Masjid Baitul Ilmi semoga Allah senantiasa memberikan limpahan rahmat dan pahala yang tiada putus.
Rekening Donasi:
————————————————————
BANK Mandiri, Rek. No.118-00-09-76215-3 a.n Apit
Mandiri Syariah, Rek.No : 709.29008.88 a.n Apit
BNI, Rek. No : 0410570565 a.n Apit
Panitia Pembangunan Masjid
Baitul Ilmi' SMP-SMK YMIK JAKARTA
BANK Mandiri, Rek. No.118-00-09-76215-3 a.n Apit
Mandiri Syariah, Rek.No : 709.29008.88 a.n Apit
BNI, Rek. No : 0410570565 a.n Apit
Panitia Pembangunan Masjid
Baitul Ilmi' SMP-SMK YMIK JAKARTA
Selamat Hari Bela Negara, 19 Desember 2015
[Jakarta], 19 Desember 2015
Selamat Hari Bela Negara
Hari Bela Negara atau HBN adalah hari bersejarah Indonesia yang jatuh pada tanggal 19 Desember untuk memperingati deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat pada tahun 19 Desember 1948.
Selamat Hari Bela Negara
Hari Bela Negara atau HBN adalah hari bersejarah Indonesia yang jatuh pada tanggal 19 Desember untuk memperingati deklarasi Pemerintahan Darurat Republik Indonesia oleh Mr. Sjafruddin Prawiranegara di Sumatera Barat pada tahun 19 Desember 1948.
*Seberapa besarkah cinta kalian terhadap Negara INDONESIA ???
"Mari Tanamkan rasa cinta dan bela negara pada diri kita"

"Mari Tanamkan rasa cinta dan bela negara pada diri kita"

Terkalahkan * Oleh Sity Masripah, S.Pd.I
TERKALAHKAN
(oleh Sity Masripah, S.Pd.I)
Sayangku padamu, terkalahkan
Oleh sayangnya Allah padamu
Cintaku padamu, terkalahkan
Oleh cinta Allah padamu
(oleh Sity Masripah, S.Pd.I)
Sayangku padamu, terkalahkan
Oleh sayangnya Allah padamu
Cintaku padamu, terkalahkan
Oleh cinta Allah padamu
Tunai tugasmu di dunia, sudah
Balas pahala di akhirat, kini
Insafku akan kelemahan hati
Mendengar kepergianmu
Insafku akan tangisan
Melepas kepergianmu
Rindu kini tersirat dalam do'a
Allahummag firlahu war hamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu
Balas pahala di akhirat, kini
Insafku akan kelemahan hati
Mendengar kepergianmu
Insafku akan tangisan
Melepas kepergianmu
Rindu kini tersirat dalam do'a
Allahummag firlahu war hamhu wa 'afihi wa'fu 'anhu
Hak dan Kewajiban
Hak dan Kewajiban
HAK
- Mendapatkan perlakuan yang sama sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.
- Memilih dan dipilih sebagai perwakilan kelas atau pengurus OSIS.
- Berbicara secara lisan maupun tulisan.
KEWAJIBAN
- Menyusun dan melaksanakan program kerja sesuai dengan Anggaran Dasar dan Anggaran Rumah Tangga OSIS.
- Selalu menjungjung tinggi nama baik, kehormatan, dan martabat sekolahnya.
- Kepemimpinan pengurus OSIS bersifat kolektif.
- Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada rapat perwakilan kelas pada akhir masa jabatannya.
- Selalu bekonsultasi dengan Pembina.
- Memelihara namaa baik dan kehormatan sekolah.
- Mematuhi peraturan dan tata tertib sekolah.
- Menghormati tenaga kependidikan.
- Memelihara sarana dan prasarana serta keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, dan kekeluargaan di sekolah.
Syarat dan Tugas Umum
Syarat dan Tugas Umum
SYARAT
- Taqwa terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
- Memiliki budi pekerti yang baik dan sopan serta santun terhadap orang tua, guru, dan teman.
- Memiliki bakat sebagai pemimpin siswa.
- Memiliki kemauan, kemampuan, dan pengetahuan yang memadai.
- Dapat mengatur waktu dengan sebaik-baiknya sehingga pelajarannya tidak terganggu karena menjadi pengurus.
- Pengurus dicalonkan oleh PK (Perwakilan Kelas).
- Untuk Ketua OSIS SMA ditambah persyaratan :
- Mempunyai kemampuan berpikir yang jernih
- Memiliki wawasan mengena kondisi yang sedang dihadapi bangsanya
- Tidak duduk di kelas terakhir karena akan mengahadapi ujian akhir
TUGAS UMUM
- Bertugas menyusun dan melaksanakan program kerja OSIS sesuai dengan Anggaran Dasar atau Anggaranan Rumah Tangga
- Menyampaikan laporan pertanggungjawaban kepada rapat perwakilan kelas pada akhir masa jabatannya.
- Bertanggung jawab langsung kepada perwakilan kelas dan Pembina OSIS.
- Mempunyai masa kerja selama satu tahun pelajaran.
Struktur Uraian dan Tugas Pengurus OSIS
KETUA
- Memimpin organisasi dengan baik dan bijaksana.
- Mengkoordinasikan semua aparat kepengurusan.
- Menetapkan kebijaksanaan yang telah dipersiapkan dan direncanakan oleh aparat kepengurusan.
- Memimpin rapat.
- Menetapkan kebijaksanaan dan mengambil keputusan berdasarkan musyawarah dan mufakat.
- Setiap saat mengevaluasi kegiatan aparat kepengurusan.
- Menyusun rencana kerja.
- Melaksanakan kegiatan yang sudah ada.
- Mengkoordinir kegiatan ekstrakulikuler.
- Menjalin komunikasi dengan sekolah lain.
- Bertanggung Jawab terhadap Pembina OSIS.
WAKIL KETUA
- Bersama-sama Ketua menetapkan kebijaksanaan.
- Memberikan saran kepada Ketua dalam rangka mengambil keputusan.
- Menggantikan Ketua jika berhalangan.
- Membantu Ketua dalam melaksanakan tugasnya.
- Bertanggung jawab kepada Ketua.
- Wakil Ketua bersama-sama dengan Wakil Sekretaris mengkoordinasi seksi bidang.
- Melaksanakan program kerja OSIS.
- Mengaktifkan kegiatan ekstrakulikuler.
SEKRETARIS I
- Memberi saran atau masukan kepada Ketua dalam mengambil keputusan.
- Mendampingi Ketua dalam memimpin setiap rapat.
- Menyiapkan, mendistribusikan, dan menyimpan surat serta arsip yang berhubungan dengan pelaksanaan kegiatan.
- Menyiapkan laporan, surat, agenda dan hasil rapat serta evaluasi kegiatan.
- Bersama Ketua menandatangani setiap surat.
- Bertanggung jawab atas tertib administrasi organisasi.
- Bertindak sebagai notulis dalam rapat atau diserahkan kepada Wakil Sekretaris.
- Membantu Ketua OSIS dalam pembuatan program kerja.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
- Melaksanakan program OSIS.
SEKRETARIS II
- Aktif membantu pelaksanaan tugas sekretaris.
- Menggantikan Sekretaris jika Sekretaris berhalangan.
- Membantu Wakil Ketua mengkoordinir seksi bidang.
BENDAHARA I
- Bertanggung jawab dan mengetahui segala pemasukan/pengeluaran yang diperlukan.
- Bersama Ketua menyusun anggaran belanja organisasi.
- Membuat tanda bukti kuitansi setiap pemasukan/pengeluaran untuk pertanggung jawaban.
- Bertanggung jawab atas inventaris dan pembendaharaan.
- Menyampaikan laporan keuangan secara berkala.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
BENDAHARA II
- Aktif membantu pelaksanaan tugas Bendahara.
- Menggantikan Bendahara jika Bendahara berhalangan.
- Bersama bendahara membantu Ketua menyusun anggaran belanja organisasi.
KETUA KOORDINATOR SEKSI BIDANG I
- Bertanggung jawab atas seluruh kegiatan bidang yang menjadi tanggung jawabnya.
- Melaksanakan kegiatan bidang yang telah diprogramkan.
- Memimpin rapat bidang.
- Menetapkan kebijaksanaan bidang dan mengambil keputusan berdasarkan musyawarah dan mufakat.
- Menyampaikan laporan pertanggungjawaban pelaksanaan kegiatan bidang kepada masing-masing koordinator seksi bidang.
- Bertanggung jawab kepada Ketua OSIS.
KETUA KOORDINATOR SEKSI BIDANG II
- Aktif membantu pelaksanaan tugas Ketua Koordinator Seksi Bidang.
- Menggantikan Ketua Koordinator Seksi Bidang jika Ketua Koordinator Seksi Bidang berhalangan.
HUBUNGAN MASYARAKAT I
- Membantu Ketua dalam pelaksanaan rapat atau kegiatan sebagai juru bicara.
- Menjelaskan isi rapat kepada pengurus OSIS.
HUBUNGAN MASYARAKAT II
- Membantu pelaksanaan tugas Ketua Humas
- Menggantikan Ketua Humas jika Ketua Humas berhalangan.
SEKSI-SEKSI BIDANG
- Ketaqwaan terhadap Tuhan Yang Maha Esa
- Melaksanakan ibadah sesuai dengan ketentuan agama masing-masing.
- Memperingati hari-hari besar agama.
- Mengadakan kegiataan bakti sosial yang bersifat keagamaan.
- Mengadakan lomba-lomba yang bersifat keagamaan.
- Melaksanakan perbuatan amaliah sesuai norma agama.
- Membina toleransi kehidupan antar umat beragama.
- Mengembangkan dan memberdayakan keguatab keagamaan di sekolah.
- Membuat laporan kegiatan.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
- Kehidupan Berbangsa dan Bernegara
- Melaksanakan bakti sosail atau masyarakat.
- Memelihara kelestariaan dan keindahan lingkungan sekolah.
- Melaksanakan perlombaan antar sekolah.
- Melaksanakan kegiatan bela Negara.
- Mempelajari dan meneruskan nilai-nilai luhur, kepeloporan, dan semangat perjuangan para pahlawan.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
- Pendidikan dan Pendahuluan Bela Negara
- Melaksanakan tata tertib sekolah.
- Mengadakan perlombaan mata pelajaran antar kelas.
- Meningkatkan mutu pendidikan di sekolah.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhaap Ketua OSIS.
- Berorganisasi, Pendidikan, Kepemimpinan, dan Politik
- Memantapkan dan mengembangkan program organisasi
- Melaksanakan latihan dasar kepemimpinan bagi siswa.
- Menyelenggarakan forum diskusi ilmiah.
- Memantapkan dan mengembangkan peran siswa di dalam OSIS sesuai dengan tugasnya masing-masing
- Melaksanakan kegiatan dengan prinsip kejujuran, transparan, dan professional.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
- Kepribadian dan Budi Pekerti Luhur
- Melaksanakan tatanan kehidupan yang berjiwa Pancasila.
- Melaksanakan tata karma siswa.
- Memberikan contoh yang baik kepada seluruh siswa.
- Melaksanakan tata tertib dan kultur sekolah
- Melaksanakan norma-norma yang berlaku dan tata krama pergaulan.
- Menumbuh kembangkan kesadaran untuk rela berkorban terhadap sesama.
- Menumbuh kembangkan sikap hormat dan menghargai warga sekolah.
- Melaksanakan kegiatan 7K (keamanan, kebersihan, ketertiban, keindahan, kekeluargaan, kedamaian dan kerindangan).
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
- Kesegaran Jasmani dan Daya Kreasi
- Menyelenggarakan lomba olahraga
- Menyelenggarakan festival dan lomba seni.
- Mengaktifakan prestasi di bidang olahraga.
- Mengadakan pertandingan persahabatan dengan sekolah lain.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS
- Keterampilann dan Kewirausahaan
- Membuat keterampilan dengan barang bekas.
- Meningkatkan kemampuan keterampilan siswa melalui sertifikasi kopetensi siswa.
- Meningkatkan usaha koperasi siswa dan unit produksi.
- Meningkatkan kreatifitas dan keterampilan di bidang barang dan jasa.
- Menyiapkan persiapan acara dengan kegiatan OSIS.
- Membantu seluruh seksi bidang dalam kegiatan setiap acara yang berhubungan dengan siswa.
- Melaksanakan program OSIS.
- Bertanggung jawab terhadap Ketua OSIS.
- Persepsi, Apresiasi dan Kreasi Seni
- Menyelenggarakan berbagai macam pelatihan seni dan budaya.
- Menyelenggarakan berbagai macam pentas seni.
- Menyelenggarakan lomba-lomba seni dan budaya.
- Menyelenggarakan sanggar berbagai macam seni.
- Mengkordnir kegiatan OSIS.
- Menyelenggarakan acara kesenian di sekolah.
- Melaksanakan program OSIS
- Bertandung jawab terhadap Ketua OSIS.
Sejarah Palang Merah Internasional
1.SEJARAH PALANG MERAH INTERNASIONAL
SEJARAH PALANG MERAH
PALANG MERAH INTERNASIONAL
ARTI PALANG MERAH :
Suatu perhimpunan yang anggotanya memberikan pertolongan secara
sukarela kepada setiap manusia yang sedang menderita tanpa membeda –
bedakan bangsa, golongan, agama dan politik.
SEJARAH
Berawal dengan pecahnya perang antara pasukan Perancis dan Italia melawanAustria
pada tahun 1859 di Selferino (Italia Utara), Henry Dunant menyaksikan
terjadinya perang tersebut dimana banyak korban perang yang tidak
mendapat pertolongan, sehingga timbul ide atau gagasan untuk memberi
pertolongan kepada korban perang tersebut. Pengalaman selama beberapa
hari bergelut dimedan
perang, ia tuangkan di dalam buku yang ditulisnya pada tahun 1962 bejudul “ A Memory of Solferino “ (Kenangan di Solferino). Buku tersebut berkisah tentang kondisi yang ditimbulkan oleh peperangan dan mengusulkan agar dibentuk satuan tenaga sukarela yang bernaung di bawah suatu lembaga yang memberikan pertolongan kepada orang yang terluka di
medan
perang.
1. KOMITE INTERNASIONAL PALANG MERAH ( KIPM )
(International Committee of the Red Cross)
Latar belakang berdirinya
Buku kenangan di Solferino (a
memory of solferino) sangat menarik perhatian masyarakat diantaranya 4
orang penduduk Jenewa, yaitu :
1. General Dufour 3. Dr. Theodore Maunoir
2. Dr. Louis Appia 4. Gustave Moynier
4 orang tersebut bersama Henry Dunant membentuk Komite Lima
(1963), mereka merintis terbentuknya KIPM yang kemudian menjadi Internasional Committee of the Red Cross (ICRC).
Pada tanggal 22 agustus 1864 atas prakarsa ICRC, pemerintah Swiss
menyelenggarakan suatu konferensi yang diikuti oleh 12 kepala negara
yang menandatangani perjanjian Internasional yang dikenal dengan :
KONVENSI JENEWA I
|
Karena tanda Palang Merah
diasumsikan mempunyai arti khusus, maka pada tahun 1876 simbol bulan
sabit merah disahkan untuk digunakan oleh Negara-negara Islam. Kedua
symbol tersebut memiliki arti dan nilai yang sama.
“Konferensi Internasional Palang Merah “ yang diselenggarakan 4 tahun sekali
dan dihadiri oleh ICRC, Federasi, Perhimpunan Nasional dan Pemerintah
peserta peratifikasi Konvensi Jenewa tahun 1949. Pertemuan itu membahas
persoalan – persoalan umum dan menampung usul – usul serta resolusi di
samping mengambil keputusan.Para
peserta konferensi memilih anggota Standing Commission (Komisi Tetap)
yang bersidang pada waktu diantara dua konferensi Internasional.
2. FEDERASI INTERNASIONAL PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH (IFRC)
(International Federation of The Red Cross)
Latar belakang berdirinya
Dengan berakhirnya Perang Dunia I, berbagai epidemi penyakit berjangkit bencana kelaparan menjalar. Melihat kenyataan itu, Henry P. Davidson warga negara Amerika, merasa perlu mendirikan suatu organisasi yang menangani masalah bantuan tersebut. Organisasi ini resmi didirikan pada tanggal 5 Mei 1919 dalam suatu Konferensi Kesehatan Internasional di Cannas Perancis. Palang Merah Indonesia
termasuk anggota ke 68. Organisasi
BADAN TERTINGGI ORGANISASI :
Badan tertinggi penentuan kebijaksanaan adalah disebut “General Assembly Board of Gevernors”.
General Assembly atau sidang umum dihadiri oleh wakil-wakil dari semua
anggota federasi dan bersidang tiap 2 tahun, Presiden Federasi dipilih
tiap 4 tahun. Jika General Assembly tidak besidang, maka kebijakan
tertinggi dilaksanakan oleh “Executive” yang aggotanya terdiri dari 16 Perhimpunan Nasional (dipilih berdasarkan letak goegrafis), Presiden dan Sekjen Federasi.
3. PRINSIP – PRINSIP DASAR GERAKAN PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH INTERNASIONAL
Semua kegiatan kemanusiaan
dilandasi oleh 7 prinsip dasar Gerakan Palang Merah dan Bulan Sabit
Merah Internasional. Ketujuh prinsip ini disahkan dalam Konferensi
Internasional Palang Merah ke XX di Wina tahun 1965. Ketujuh prinsip ini
juga disahkan dalam Munas XIV Palang Merah Indonesia di Jakarta pada
tahun 1986.
1. KEMANUSIAAN ( Humanity )
Gerakan Palang Merah
dan Bulan Sabit Merah Internasional didirikan berdasarkan keinginan
memberikan pertolongan tanpa membedakan korban terluka di dalam
pertempuran, berupaya dalam kemampuan bangsa dan antar bangsa, mencegah
dan mengatasi penderitaan sesama manusia. Palang Merah menumbuhkan
saling pengertian, kerjasama dan perdamaian abadi bagi sesama manusia.
2. KESAMAAN ( Impartiality )
Gerakan ini tidak
membuat perbedaan atas dasar kebangsaan, kesukuan, agama/kepercayaan
tingkatan atau pandangan politik. Tujuannya semata – mata mengurangi
penderitaan manusia sesuai dengan kebutuhannya dan mendahulukan keadaan
yang paling parah.
3. KENETRALAN ( Neutrality )
Agar senantiasa mendapat
kepercayaan dari semua pihak, gerakan ini tidak boleh memihak atau
melibatkan diri dalam pertentangan politik, kesukuan, agama atau
idiologi.
4. KEMANDIRIAN (Independence
)
Gerakan ini bersifat mandiri.
Perhimpunan Nasional disamping membantu Pemerintahannya dalam bidang
kemanusiaan, juga harus mentaati peraturan negaranya, harus selalu
menjaga otonominya sehingga dapat bertindak sesuai dengan prinsip –
prinsip gerakan ini.
5. KESUKARELAAN ( Voluntary Service )
Gerakan ini adalah gerakan pemberi bantuan sukarela, yang tidak didasari oleh keinginan untuk mencari keuntungan apapun.
- KESATUAN ( Unity )
Didalam suatu negara hanya ada
satu Perhimpunan Palang Merah atau Bulan Sabit Merah yang terbuka untuk
semua orang dan melaksanakan tugas kemanusiaan di seluruh wilayah.
7. KESEMESTAAN ( Universality )
Gerakan Palang Merah dan Bulan
Sabit Merah Internasional adalah bersifat semesta. Setiap perhimpunan
mempunyai hak dan tanggung jawab yang sama dalam menolong sesama
manusia.
|
KOMITE INTERNASIONAL PALANG MERAH (KIPM)
|
FEDERASI INTERNASIONAL PALANG MERAH DAN BULAN SABIT MERAH
|
PERHIMPUNAN PALANG MARAH dan BULAN SABIT MERAH NASIONAL
|
|
Internasional Committee of the Red Cross (ICRC)
§ Markas Besar di Jenewa, anggota dewan ekskutifnya maksimal 25 orang warga negara Swiss.
§ TUJUAN :
Menjadi perantara NETRAL mengenai hal kemanusiaan dalam pertikaian politik, perang saudara dan kerusuhan dalam negeri.
§ TUGAS
Memberikan perlindungan kepada
korban militer maupun sipil sebagai akibat konflik bersenjata, gangguan
dan ketegangan dalam negeri.
Petugas KIPM mengunjungi tawanan
perang/tawanan politik untukberdialog tanpa saksi sehingga dapat
diperoleh gambaran yang nyata tentang kondisi penahanan juga membantu
menyampaikan berita keluarga. Laporan tersebut bersifat rahasia.
§ Memberikan bantuan (sandang, pangan medis dan sanitasi) kepada korban konflik bersenjata tersebut.
§ Melakukan
pencarian pada saat terjadi konflik bersenjata maupun sesudahnya.
Mencari berita sampai mempersatukan keluarga yang terpisah akibat
perang.
§ Melakukan
PENYEBARLUASAN HPI dan prinsip – prinsip dasar gerakan Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah dengan tujuan menganjurkan penghormatan bagi kelompok
non-kombatan (tentara yang luka, tawanan serta warga sipil). Disamping
membatasi kekejaman, pengrusakan dan mempermudah bantuan yang segera,
netral serta tidak memihak kepada para korban konflik bersenjata.
§ Dana, sumbangan sukarela dari pemerintah dan Perhimpunan Nasional.
|
International Federation of the Red Cross and Red Crescent society.
§ Markas Besar di Jenewa. Secretariat Federasi dipimpin oleh Sekjen mempunyai pegawai yang terdiri dari bermacam – macam bangsa.
§ Tujuan :
Mencegah
dan meringankan penderitaan manusia melalui kegiatan Palang Merah dan
Bulan Sabit Merah nasional yang merupakan sumbangan untuk perdamaian.
§ Tugas :
1. Menggiatkan
PEMBENTUKAN dan pengembangan PERHIMPUNAN NASIONAL di seluruh dunia.
Federasi juga bertindak sebagai perantara, koordinator antara
Perhimpunan Palang Merah Internasional.
2. Memberikan
saran dan membantu Perhimpunan Nasional dalam meningkatkan,
mengkoordinasi BANTUAN Internasional untuk KORBAN BENCANA ALAM dan PARA
PENGUNGSI di luar daerah pertikaian, seringkali dengan melancarkan
permintaan bantuan ke seluruh dunia.
3. Mengembangkan pembentukan rencana KESIAPSIAGAAN NASIONAL terhadaP BENCANA ALAM.
4. Menggiatkan
dan mengkoordinasi pertukaran gagasan kemanusiaan bagi pendidikan anak
dan remaja diantara Perhimpunan Nasional demi membina hubungan baik
antara remaja di seluruh dunia.
5. Membantu ICRC menyebarluaskan HPI dan PRINSIP – PRINSIP DASAR GERAKAN PALANG MERAH dan BULAN SABIT MERAH.
§ Dana, iuran tahunan dari anggota dan sumbangan sukarela untuk bantuan dan pengembangan.
|
Perhimpunan Nasional harus
mendapat pengakuan dari KIPM, baru sah menjadi anggota federasi. Juga
harus diakui oleh Pemerintahannya sebagai Perhimpunan penolong yang
bersifat sukarela dan turut membantu Pemerintah. Sampai tahun 1992
anggota federasi ada 153 negara, PMI termasuk anggota ke-68.
§ Tugas :
Beraneka ragam tergantung kebutuhan negara yang bersangkutan, antara lain :
1. Memberikan bantuan darurat
2. Pelayanan kesehatan
3. Bantuan sosial bagi perorangan maupun kelompok
4. Latihan P3K
5. Melatih tenaga perawat
6. Transfusi darah
7. Pembinaan remaja
8. Di masa perang, membantu tawanan, pengungsi dan kaum interniran.
|
HUKUM PERIKEMANUSIAAN INTERNASIONAL ( H P I )
( Internasional Humaniterian Law )
Definisi :
HPI
adalah bagian dari hukum internasional yang memberikan perlindungan
terhadap anggota angkatan perang yang luka, sakit, dan tidak dapat lagi
ikut dalam peperangan serta penduduk sipil yang tidak ikut berperang.
Selain itu juga mengatur metode perang.
Maksud dan tujuan adanya HPI :
Mengatur perang yang terjadi
lebih manusiawi, bila perang itu tidak terhindarkan, menentukan orang –
orang yang tidak ikut dalam peperangan atau tidak dapat lagi ikut dalam
peperangan hendaknya dianggap manusia biasa yang patut dihargai dan
diperlakukan secara manusiawi.
Sasaran penyerangan hanya boleh
dilakukan terhadap obyek militer dan bukan obyek sipil. HPI sangat erat
kaitannya dengan Palang Merah, dimulai dengan lahirnya Konvensi Jenewa
1864 ( pertama ). Konvensi Jenewa telah dilengkapi dan diperbaiki pada tahun 1906, 1928, 1949 dan 2 protokol ditambahkan pada konvensi tersebut ditahun 1977.
4 konvensi Jenewa 1949 :
Konvensi I : Perlindungan terhadap korban angkatan perang di darat yang luka
dan sakit, petugas kesehatan serta petugas dibidang agama.
Konvensi II : Perlindungan terhadap korban angkatan perang di laut, petugas
kesehatan,
petugas agama serta kapal perang yang kandas.
Konvensi III : Perlindungan terhadap tawanan perang.
Konvensi IV : Perlindungan terhadap orang – orang sipil di masa perang.
Karena ke 4 Konvensi
tersebut belum mencakup perlindungan terhadap semua penderita yang
diakibatkan oleh pertikaian, maka pada tahun 1977 dikeluarkan 2 protokol
:
Protokol I : diterapkan pada konflik bersenjata internasional.
Protokol II : diterapkan pada konflik non internasional.
Tiap negara di dunia ikut mengesahkan dan menyetujui konvensi tersebut. Sekarang lebih dari 160 negara telah ikut menjadi peserta Konvensi Jenewa tahun 1942.
HPI perlu disebarluaskan :
Sesuai ketentuan, negara
penandatanganan Konvensi Jenewa 1949 dan Protokol I dan II 1977,
mentaati dan menjamin, bahwa isi Konvensi tersebut diketahui dengan
sebaik – baiknya terutama oleh angkatan perang, Dinas Kesehatan dan
Rohaniawan ( golongan ini mempunyai hak dan kewajiban dalam Konvensi
Jenewa ). Masyarakat dan penduduk sipil juga harus memahami HPI ini,
agar mereka juga mengetahui hak – hak serta kewajiban dimasa pertikaian
bersenjata. Kegiatan perikemanusian Palang Merah untuk
menolong dan melindungi korban perang merupakan hak dan kewajiban
dibawah ketentuan Konvensi Jenewa 1949. Kegiatan ini harus semata – mata
bertujuan menolong korban perang sebagai manusia, terlepas dari
pertimbangan politik atau militer. Untuk itu PMI turut menyebar luaskan
HPI, terutama untuk kalangan PMI, yang dilakukan bersama dengan
penyebarluasan prinsip – prinsip Palang Merah.
PALANG MERAH INDONESIA
Menkes
RI
dalam Kabinet I ( Dr. Boentaran ) membentuk Panitia 5 :
tersusun Pengurus Besar PMI yang dilantik oleh Wakil Presiden RI Moch. Hatta yang sekaligus beliau sebagai Ketuanya.

KEANGGOTAAN PALANG MERAH INDONESIA
PALANG MERAH REMAJA
Seperti Palang Merah Internasional, lahirnya PMI juga berkaitan dengan kancah peperangan, diawali pada :
A. MASA SEBELUM PERANG DUNIA II
1. 21 Oktober 1873 Nederlands Rode Kruis Afdeling Indie ( NERKAI ) didirikan Belanda.
2. Tahun 1932 Dr. RCL Senduk dan Dr. Bahder Djohan merencanakan mendirikan badan PMI.
3. Tahun 1940 pada sidang konperensi NERKAI, rencana diatas ditolak karena menurut Pemerintah Belanda, rakyatIndonesia
belum mampu mengatur Badan Palang Merah Nasional.
B. MASA PENDUDUKAN JEPANG.
Dr. RCL Senduk berusaha lagi untuk mendirikan Badan PMI namun gagal, ditolak Pemerintah Dai Nippon.
C. MASA KEMERDEKAAN RI
1. 17 Agustus 1945 RI Merdeka.
2. 3
September 1945 Presiden Soekarno memerintahkan kepada Menteri Kesehatan
Dr. Buntaran Martoatmodjo untuk membentuk Badan Palang Merah Nasional.
Pembentukan PMI dimaksudkan juga untuk menunjukan pada dunia
Internasional bahwa negaraIndonesia
adalah suatu fakta yang nyata.
3.
5 September 1945Menkes
RI
dalam Kabinet I ( Dr. Boentaran ) membentuk Panitia 5 :
Ketua : Dr. R. Mochtar.
Penulis : Bahder Djohan.
Anggota : Dr. Djoehana.
Dr. Marzuki.
Dr. Sintanala.
4.
17 September 1945tersusun Pengurus Besar PMI yang dilantik oleh Wakil Presiden RI Moch. Hatta yang sekaligus beliau sebagai Ketuanya.
D. MASA PERANG KEMERDEKAAN.
Pada masa itu peperangan terjadi dimana – mana, dalam usia muda PMI menghadapi kesulitan,
kurang pengalaman, kurang peralatan dan dana. Namun orang – orang
secara sukarela mengerahkan tenaganya, sehingga urusan Kepalangmerahan
dapat diselenggarakan. Dari pertolongan dan bantuan seperti :
§ Dapur Umum ( DU ).
§ Pos PPPK ( P3K ).
§ Pengangkutan dan perawatan korban pertempuran.
§ Sampai penguburan jika ada yang meninggal.
Dilakukan oleh laskar – laskar Sukarela dibawah Panji Palang Merah yang tidak memandang golongan, agama dan politik.
Pada waktu itu dibentuk Pasukan Penolong Pertama ( Mobile Colone ) oleh cabang – cabang, anggotanya terdiri dari pelajar.
E. BEBERAPA PERISTIWA SEJARAH PMI
1. Tanggal 16 Januari 1950.
Dikeluarkan Keputusan Presiden RI No. 25 / 1950 tentang pengesahan berdirinya PMI.
2. Tanggal 15 Juni 1950.
PMI diakui oleh ICRC.
3. Tanggal 16 Oktober 1950.
PMI diterima menjadi anggota Federasi Internasional Palang Merah dan Bulan Sabit Merah dengan keanggotaan No. 68.
F. NAMA – NAMA TOKOH YANG PERNAH MENJADI KETUA PMI
1. Ketua PMI ke 1 ( 1945 – 1946 ) : Drs. Moch. Hatta.
2. Ketua PMI ke 2 ( 1945 – 1948 ) : Soetarjo Kartohadikoesoemo.
3. Ketua PMI ke 3 ( 1948 – 1952 ) : BPH Bintoro.
4. Ketua PMI ke 4 ( 1952 – 1954 ) : Prof. Dr. Bahder Djohan.
5. Ketua PMI ke 5 ( 1954 – 1966 ) : P. A. A. Paku Alam VIII.
6. Ketua PMI ke 6 ( 1966 – 1969 ) : Letjen Basuki Rachmat.
7. Ketua PMI ke 7 ( 1970 – 1982 ) : Prof. Dr. Satrio.
8. Ketua PMI ke 8 ( 1982 – 1986 ) : Dr. H. Soeyoso Soemodimedjo.
9. Ketua PMI ke 9 ( 1986 – 1992 ) : Dr. H. Ibnu Sutowo.
10. Ketua PMI ke 10 ( 1992 – 1998 ) : Hj. Siti Hardianti Rukmana.
11. Ketua PMI ke 11 ( 1998 – 2004 ) : Mari’e Muhammad.
12. Ketua PMI ke 12 (2004 – sekarang : Mari’e Muhammad
G. STRUKTUR ORGANISASI PMI
|
M U N A S
|
——————————————
|
PENGURUS PUSAT
|
|
|
|
|
|
M U S D A
|
——————————————
|
PENGURUS DAERAH
|
|
|
|
|
|
M U S C A B
|
——————————————
|
PENGURUS CABANG
|
|
|
|
|
|
M U S R A N
|
——————————————
|
PENGURUS RANTING
|
|
|
|
|
|
|
|
A N G G O T A
|
KETERANGAN : ————————– GARIS KOORDINASI
__________________ GARIS KOMANDO
Musyawarah Nasional adalah
pemegang kekuasaan tertinggi didalam perhimpunan PMI, dihadiri oleh
utusan – utusan Cabang, Daerah serta Pengurus Pusat. Diadakan tiap 4
tahun. Saat ini PMI memiliki 306 Cabang dari 31 Propinsi ( Daerah ).
TUJUAN PMI :
Meringankan penderitaan
sesama manusia apapun sebabnya, dengan tidak membedakan golongan,
bangsa, warna kulit, jenis kelamin, bahasa, agama dan kepercayaan
terhadap Tuhan Yang Maha Esa.
LAMBANG PMI :
1. PMI menggunakan lambang Palang Merah di atas dasar putih sebagai tanda PERLINDUNGAN sesuai dengan ketentuan Palang Merah Internasional,
2. Lambang PMI sebagai anggota Palang Merah Internasional adalah Palang Merah di atas dasar warna putih,
3. Lambang PMI sebagai Perhimpunan Nasional adalah Palang Merah di atas dasar putih dilingkari bunga berkelopaklima
.
Didalam Anggaran Dasar PMI pada Bab VII pasal 11 disebutkan : Organisaasi PMI mempunyai anggota yaitu :
1. Anggota Remaja.
2. Anggota Biasa.
3. Anggota Kehormatan.
1. ANGGOTA REMAJA.
§ Wanita – Pria usia di bawah 18 tahun Warga NegaraIndonesia
.
§ Mendaftarkan diri secara sukarela di sekolah masing – masing.
§ Mendapat ijin atau persetujuan orang tua.
KEWAJIBAN :
A. Mengikuti pendidikan dan latihan dasar Kepalangmerahan.
B. Bersedia membantu tugas – tugas Kepalangmerahan dan tergabung dalam wadah / kegiatan Palang Merah Remaja.
C. Menjaga nama baik organisasi serta mempererat persahabatan baik nasional maupun internasional.
D. Mempertinggi ketrampilan dan kecakapan dalam tugas Kepalangmerahan.
HAK :
A. Dapat menjadi Anggota Biasa PMI jika telah mencapai usia 18 tahun.
B. Mendapat kesempatan pendidikan Kepalangmerahan.
C. Ikut aktif dalam Palang Merah Remaja.
D. Dapat mengikuti kegiatan – kegiatan sebagai Anggota Remaja baik di Dalam Negeri maupun di Luar Negeri.
Palang Merah Remaja di bentuk oleh PMI pada bulan Maret 1950
yang merupakan perwujudan dari keputusan Liga Palang Merah ( League of
the Red Cross and Red Crescent Societies ). Terbentuknya PMR
di Indonesia ini dan juga PMR dibeberapa Palang Merah Nasional lainnya
dilatarbelakangi oleh pecahnya Perang Dunia ke 1, dimana pada waktu itu
Palang Merah Australia mengerahkan anak – anak sekolah supaya turut
membantu sesuai dengan kemampuannya. Kepada mereka diberikan tugas
ringan, seperti mengumpulkan pakaian bekas, majalah – majalah bekas dari
dermawan, menggulung pembalut dan sebagainya. Anak – anak ini dihimpun
dalam sebuah organisasi yang dinamakan “ Palang Merah Remaja “, kemudian prakarsa ini diikuti oleh negara – negara lain.
Keanggotaan PMR dibagi dalam tiga tingkatan antara lain :
PMR MULA : Setingkat usia murid SD, 7 – 12 tahun, Badge warna HIJAU.
PMR MADYA : Setingkat usia murid SLTP, 13 – 16 tahun, Badge warna BIRU.
PMR WIRA : Setingkat usia murid SLTA, 17 – 21 tahun, Badge warna KUNING.
Walaupun PMR sesuai dengan
tingkatnya, adakalanya diperbantukan pula dalam tugas – tugas
Kepalangmerahan, seperti turut membantu memberikan pertolongan P3K, dan
lain – lain, namun tugas kewajiban utama yang dibebankan kepada PMR
adalah :
1. Berbakti kepada masyarakat.
2. Mempertinggi ketrampilan dan memelihara kebersihan dan kesehatan.
3. Mempererat persahabatan nasional dan internasional.
2. ANGGOTA BIASA PMI
§ Wanita – Pria usia di atas 19 tahun Warga NegaraIndonesia
.
§ Mendaftarkan diri secara sukarela atas nama pribadi.
§ Mengetahui azas dan tujuan PMI dan bersedia mengikuti tata tertib organisasi PMI.
KEWAJIBAN :
A. Membayar iuran anggota.
B. Menyumbangkan pikiran, tenaga dan dana untuk menolong sesama yang menderita sesuai dengan kemampuan.
C. Menjaga nama baik organisasi.
D. Memajukan organisasi.
HAK :
A. Hak suara dalam rapat organisasi.
B. Hak memilih dan dipilih, menjadi Pengurus PMI.
C. Mendapatkan informasi tentang organisasi.
D. Mendapatkan kesempatan pendidikan dan latihan Kepalangmerahan.
E. Ikut aktif dalam Korps Sukarela.
F. Mendapatkan kesempatan begotongroyong, dan saling menolong antara anggota PMI.
G. Menikmati kepuasan batin sebagai insan yang memperhatikan nasib sesama.
KETERANGAN :
§ Anggota PMI adalah kekuatan inti organisasi.
§ Anggota PMI adalah potensi sumberdaya dan dana organisasi.
§ Anggota PMI pada suatu saat dapat menjadi Pengurus PMI dengan status keanggotaannya yang tetap.
ANGGOTA BIASA DIHARAPKAN AKTIF DALAM TSR MAUPUN KSR
SESUAI DENGAN MINAT DAN KONDISINYA.
TSR (TENAGA SUKARELA), KSR (KORPS SUKARELA)
1. Setiap
anggota biasa perhimpunan PMI pada dasarnya adalah tenaga sukarela (
TSR ) yang menyumbangkan tenaga, waktu, pikiran dan dana, baik secara
keseluruhan maupun bagian – bagiannya untuk tugas kemanusiaan.
2. KSR
adalah kesatuan atau unit didalam perhimpunan PMI yang beranggotakan
pribadi anggota biasa perhimpunan PMI yang menyatakan diri menjadi KSR
PMI.
3. Fungsi TSR dan KSR :
A. Fungsi TSR PMI adalah sebagai tenaga pelaksana perhimpunan PMI dalam melaksanakan tugas kemanusiaan.
B. Dalam menjalankan fungsinya, TSR PMI dan KSR PMI berstatus sebagai tenaga sukarela.
C. Sebagai
kesatuan maupun sebagai pribadi sukarelawan TSR PMI dan KSR PMI wajib
mengikuti tata aturan dan ketentuan yang ditetapkan.
4. Tugas operasional :
A. Tugas TSR / KSR PMI adalah melaksanakan pertolongan / bantuan secara pribadi atau secara berkelompok yang terarah.
B. Setiap KSR dapat bertugas membantu tugas KSR dalam bidang – bidang tertentu.
3. ANGGOTA KEHORMATAN PMI.
§ Wanita – Pria tanpa batas usia.
§ Telah berbuat jasa bagi PMI dan diusulkan oleh Pengurus untuk diangkat.
§ Bersedia diangkat menjadi Anggota Kehormatan.
KEWAJIBAN :
A. Menjaga nama baik organisasi.
B. Memberi perhatian terhadap PMI.
HAK :
A. Memilih dan dipilih menjadi Pengurus PMI.
B. Mengikuti perkembangan organisasi.
C. Ikut mengembangkan dan memajukan PMI dengan menyampaikan saran kepada Pengurus.
KETERANGAN :
§ Anggota
Kehormatan PMI merupakan tanda Penghargaan bagi seseorang karena jasa –
jasanya dalam menyumbangkan pikiran, tenaga maupun dana yang luar biasa
( ekstra ordiner ).
§ Pengurus
Daerah dan Pengurus Cabang dapat mengusulkan seseorang untuk diangkat
menjadi Anggota Kehormatan dengan alasan yang sangat kuat.
§ Pengurus Pusat mengeluarkan Surat Keputusan Pengangkatan “ Anggota
